Oleh :Ahmad Yani, S.Pd.I
1. Pendahuluan
Cinta adalah fitrah yang dimiliki oleh seluruh mahluk ciptaan Allah di alam raya ini.Ketika Allah swt menciptakan malaikat,jin dan manusia mereka semua diciptakan dengan cinta. Tapi alangkah buruknya manusia Allah yang telah menciptakan manusia dengan rasa cinta dan kasih di kotori oleh nafsu serakah manusia yang ingin berkuasa atas segala sesutu yang ada di alam raya ini. Dalam sebuah hadis di ceritakan bahwa manusia terdiri dari dua versi, yaitu versi malaikat dan iblis.
Apabila manusia berada dalam keadaan senantiasa selalu ingin beribadah, mencintai dan menyayangi manusia maka ia berada dalam kekuasaan malaikat, boleh jadi kita bisa menyebutnya dia itu bukan manusia tapi malaikat yang menjelma jadi malaikat. Tapi sebaliknya jika manusia tidak memiliki lagi rasa cinta dan sayang kepada sesama,selalu berbuat jahat dan melukai hati sesama, mencemooh,membenci, iri hari, dengki bisa jadi orang-orang yang ada di sekitar kita menyebut manusia seperti itu dengan sebutan setan atau iblis. Dalam sebuah buku M.quraish Shihab menyatakan bahwa syetan sebenarnya tidak ada di dunia ini tapi syetan merupakan perwujudan dari sifat iblis/jin laknatullah alaih. Oleh karena itu timbul pertanyaan dalam pikiran kita semua, bagaimana kita menjadi manusia yang bisa memanusiakan manusia? Jangan sampai setiap hari kita hanya mengumbar amarah, nafsu syaitan. Nafsu syaitan adalah nafsu jahat yang dimiliki oleh setiap manusia. Menurut ahli tafsir nafsu terbagi kepada tiga bagian : nafsu lawamah, amarah dan mutmainah.
2. Pembagian cinta
IIP wijayanto seorang tokoh muda jogya membagi cinta kedalam tiga bagian : cinta pada Allah,cinta pada orang tua, cinta pada mahluk. Cinta pada Allah memiliki tingkatan cinta yang tertinggi, karena Allah sebagai sang maha pencipta, sang pemelihara Alam, manusia diciptakan dengan cinta, karena sangat cintanya Allah kepada mahlukya Allah memberikan tanda yang terdapat dalam tubuh mahluknya, diantaranga : tangan dan kaki manusia yang berjumlah 5 jari apabila kita perhatikan dan pahami maka tangan kita itu betuliskan nama ALLAH dalam bahasa Arab, subhanallah, kita lihat lagi telapak tangan kita kalau kita lihat lebih dalam maka telapak tangan kita terdapat tulisan angka 18 dan 81, kalau diperhatikan maka jumlahnya 99 yang berarti jumlah Asma'ul Husana (nama2 Allah ) bukan hanya itu saja kalau kita jumlahkan jari tangan dan kaki kita yang berjumlah 20 buah, itu menggambarkan sifat Allah yang 20. Astagfirullah hal Adhim ternyata Allah sangat sayang pada mahluknya yang bernama manusia, sehingga memberikan tanda yang begitu banyak, agar manusia selalu ingat bahwa begitu cinta dan sayangnya sang pencipta pada manusia.
Cinta pada orang tua merupakan tingkatan cinta yang kedua, karena melalui merekalah Allah memberikan anugrahnya berupa kelahiran kita di dunia, Rasullah berfirman dalam sebuah hadist “ siapa yang harus kamu hormati didunia ini, Rasul menjawab : ibumu, siapa lagi ya rasul : ibumu,siapa lagi ya rasul : Ibumu kemudian rasul meneruskan bapakmu. Sungguh indah perumpamaan cinta yang diberikan Allah kepada manusia. Bahkan dalamsebuah hadist rasulbersabda : “tidak dihitung iman diantara kamu semua kalau belummencintai saudaranya sendiri seperti mencintai dirinya sendiri, luar biasa,islam memandang cinta dari hal yang kecil sampai sesuatu yang besar semuanya dijelaskan dengan teratur dan terarah.
Cinta pada mahluk cinta ini yang selalu memiliki perubahan yang signifikan, selalu berubah dalam sekejap mata, sesuai dengan keinginan nafsu dan angkara manusia. Cintailah segala sesuatu karena Allah, bukan karena sifat kebendaan itu sendiri. Kalau kita mencintai mahluk Allah karena rupa dan tubuhnya maka kita akan kecewa berat dimasa yang akan datang, kalau kita mencintai suami kita karena rupanya tampan bukan karena Ahlaknya maka suatu saat kita akan kecewa kalau suami kita jadi bangkrut dalam bekerja, kalau kita cinta kepada suami kita karena ketampanannya maka suatu saat kita akan kecewa karena suami yang kita idam-idamkan dan puja selama ini sudah mengkerut wajahnya.
Cinta pada Allah berada pada tingkat cintatertinggi manusia. Cinta pada sang pencipta dalam bahasasufi yaitu mahabbah. Apabilaorang yang sudah merasakan cintanya pada allah maka segala yang mereka lakukan hanyalah untuk allah semata. Seorang sufi wanita ternama Rabiatul Adawiyah menggambarkan kisah cintanya kepada Allah, beliau mengorbankan hidupnya hanya untuk beribadah pada Allah.ketika seorang sufi ternama (Ibrahim bin adham) melamar beliau untuk dijadikan istri,karena cintanya pada sang khaliq beliau mengajukan 3 pertanyaan kepada calon suaminya tersebut,kalau engkau dapat menjawab pertanyaan saya, saya siapmenikah dengan engkau. Pertanyaan yang beliau ajukan adalah : 1. Kapan saya meninggal ? 2. kalau sayameninggal saya akan dapat nikmat kubur atau azab kubur ? 3. Pada Yaumul Mizan saya akan masuk surga atau neraka ?. Pertanyaan yang beliau ajukan tentu saja tiada seorang pun yang dapat menjawabnya. Akhirnya ibrahimbatal menikah denga rabiatul. Kemudian sang sufi wanita menjawab pertanyaan tersbut. Kalau anda tidak dapat menjawab pertanyan itu, saya lebih cinta kepada allah yang telah memberikan segalan kepada mahluknya. Akhirnya sang sufi tekun ibadah mengharapridho ilahi.
3. Cinta dan kepemimpinan
Satu pertanyaan yang timbul dalam benak kita, apa hubunggannya antara cinta dan kepemimpinan sesorang. Ternyata keberhasilan seseorang dalam memimpin banyak di pengaruhi oleh cinta. Seorang pemimpin yang berwibawa ternyata tidak perlu amarah yang tinggi untuk dituruti sama bawahannya. Seorang peminpin yang berwibawa tidak perlu emosi untuk minta dihormati sama bawahannya, ternyata semua yang diinginkan oleh seorang pemimpin hanya satu kata untuk memulai kepemimpinanya itu yaitu CINTA. Satu pertanyaan besar yang selalu melanda pikiran penulis. Ketika menulis tulisan ini. Hampir di setiap daerah di Indonesia ataupun di wilayah penulis. Dari tingkat RT sampai lembaga-lembaga pemerintahan sedang dilanda krisis kepemimpinan, ternyata ketika mereka berbicara di depan bawahannya begitu indah dengan retorika seoprang pemimpin yang ingin dipuji dan disegani tapi ketika mereka berada diatas kursi dan memiki wewenang dan banyak kekurangan akhirnya apa yang mereka lakukan. Dusta belaka !. Amarah, kekuasan, ego, kkn, dan semua sifat buruk nafsu syaitan yang mereka lakukan, untuk mendapatkan dan melegalkan segala keinginan dan keputusan mereka.
Ternyata seni memimpin adalah bagaimana kita mencitai pekerjaan, bawahan, lingkungan dan semua yang berhubungan kepimpinannya. Penulis teringat kisah cinta sang nabi, rasulallah SAW. Ketika beliau mau diangkat sebagai seorang nabi dan rasul masa muda beliau telah beliau lewatkan dengan satu cinta terhadap masyarakatnya dan masyakat arab pada waktu itu mencinta muhammad sebagai calon nabi. Sehingga masyarakat arab pada waktu itu menjuluki beliau muhmmad al-amin. Seorang pribadi yang jujur, sebuah derajat kemulian yang diberikan rakyat kepada calon pemimpin masa depan. Sehingga kepimpinan yang beliau lakukan membumi sampai ke jagad raya. Begitu banyak orang yang menangis mencintai beliau, begitu banyak orang yang merindukan beliau untuk menjadi seorang pemimpin sejati, walaupun tidak ada yang sebaik dan sehebat beliau, masih adakah yang meniru tingkah laku beliau sebagai seorang pemimpin.
4. Penutup.
Pemimpin dan kepemimpinan sangat erat kaitannya denga cinta – mencintai, seorang pemimpin sejati seharus sebelum menjadi seorang pemimpin merupakantokoh idola rakyatnya dan memiliki kelebihan dalam memberikan contoh kepada orang lain. Terutama dalam bersikap kepada saudara tetangga, sahabat dan masyarakatnya. Doa kita semua semoga kita mendapatkan seorang pemimpin yang mencintai dan menberikan tauladan bagi bawahannya. Amin ya rabbal alamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar